KEMATIAN KARENA KATA-KATA: Lukisan The Death of Socrates dan Ketakutan pada Pertanyaan

Buku ini lahir bukan dari satu peristiwa tunggal, melainkan dari kegelisahan yang berulang. Kegelisahan melihat bagaimana berbicara — sesuatu yang seharusnya menjadi jantung kehidupan intelektual — perlahan berubah menjadi aktivitas yang penuh risiko sosial. Bukan hanya karena apa yang dikatakan, tetapi karena bagaimana kata-kata itu diterima, dipotong, dan ditafsirkan di ruang publik.

Sebagai pendidik seni dan peneliti kebudayaan visual, saya terbiasa melihat persoalan sosial tidak semata-mata sebagai rangkaian kejadian, tetapi sebagai pola. Pola tentang bagaimana masyarakat bereaksi terhadap suara yang mengganggu kenyamanan, bagaimana moral dan hukum sering kali saling bertukar peran, dan bagaimana seni — secara diam-diam — menjadi tempat berlindung bagi pertanyaan-pertanyaan yang sulit diucapkan secara langsung.

Kegelisahan itu membawa saya kembali pada satu kisah lama: kematian Socrates. Kisah ini sudah terlalu sering diceritakan, terlalu sering diajarkan, dan mungkin terlalu sering dianggap selesai. Namun justru karena itulah ia menarik. Ia terus kembali setiap kali masyarakat menghadapi persoalan yang sama dalam bentuk yang berbeda.

Ketertarikan saya tidak berhenti pada kisahnya, melainkan pada cara kisah itu dihidupkan kembali.

Ketika Jacques-Louis David melukis The Death of Socrates, ia tidak sekadar mengilustrasikan peristiwa filsafat. Ia mengubahnya menjadi citra yang bekerja sebagai pernyataan kebudayaan. Lukisan itu menjadi ruang di mana pertanyaan tentang berbicara, kekuasaan, dan konsekuensi bisa dipikirkan tanpa harus segera dipertentangkan secara langsung.

Buku ini tidak ditulis untuk membela siapa pun, juga tidak untuk mengadili siapa pun. Sejak awal, saya memilih untuk tidak menyamakan tokoh lintas zaman, karena penyamaan semacam itu sering kali lebih memuaskan emosi daripada memperkaya pemahaman. Yang ingin saya lakukan adalah membaca mekanisme sosial yang terus berulang, dengan menjaga jarak yang diperlukan agar refleksi tetap jernih.

Pilihan untuk menggunakan seni—khususnya seni visual — sebagai pintu masuk bukanlah kebetulan. Seni memberi kita waktu. Ia memaksa kita berhenti sejenak, menatap, dan merasakan ketegangan tanpa harus segera mencari jalan keluar. Dalam dunia yang semakin menuntut respons cepat, kemampuan untuk menunda penilaian menjadi semakin penting.

Buku ini juga merupakan upaya pribadi untuk merawat cara berpikir yang tidak tergesa-gesa. Ia lahir dari keyakinan bahwa kebudayaan yang sehat bukanlah kebudayaan yang bebas dari konflik, melainkan kebudayaan yang memberi ruang bagi pertanyaan untuk hidup tanpa harus segera dibungkam oleh vonis.

Saya menyadari bahwa tidak semua pembaca akan sepakat dengan arah pembacaan yang ditawarkan di sini. Dan itu tidak menjadi masalah. Buku ini tidak meminta persetujuan. Ia hanya meminta kesediaan untuk membaca dengan perlahan, menjaga jarak, dan mungkin — di beberapa titik — membiarkan diri merasa tidak sepenuhnya nyaman.

Jika buku ini berhasil melakukan satu hal kecil saja, saya berharap itu adalah membuka ruang untuk mendengar pertanyaan sebelum kita tergesa-gesa menjawabnya. Karena sering kali, bukan jawaban yang kita butuhkan terlebih dahulu, melainkan keberanian untuk bertahan dalam kegelisahan.

Akhir kata, buku ini saya persembahkan bagi siapa pun yang masih percaya bahwa berpikir adalah kerja bersama — kerja yang membutuhkan kesabaran, kerendahan hati, dan ruang yang cukup luas agar perbedaan tidak langsung berubah menjadi hukuman.

Detail Buku

Jumlah halaman: 59

Bahasa: Indonesia

Ukuran: 13 x 20 cm

Penerbit: ArtCiv

Tahun terbit: 2026